Rabu, 25 November 2009

Guru....Pendidik

Banyak dari kita yang sesungguhnya bisa dan berbakat menjadi pengajar yang baik, namun menolak kesempatan itu. Mengapa? Menurutku, itu karena materi yang bisa kita terima tak akan mampu menutup gaya hidup kita. Pada akhirnya, menjadi guru hanya menjadi semacam pekerjaan untuk menghidupi kita. Maka tak heran, jika kita menolak untuk menjadi guru karena kita tahu bahwa penghasilan yang akan kita terima takkan pernah mencukupi kebutuhan hidup kita. Hidup yang kita inginkan menjadi sebuah kenyamanan dengan materi yang berlebih. Maka perlukah kita heran jika pada akhirnya, menjadi guru sebagian besar hanya akan dipilih oleh mereka-mereka yang tak punya jalan lain lagi? Tidak semua, memang. Namun nampak jelas bahwa jika ada pilihan lain, mereka-mereka yang mampu takkan mau menjadi guru karena mereka berpikir bahwa menjadi guru tak mempunyai masa depan yang cerah. Maka aku merasa bahwa tidak pada tempatnya temanku itu mengeluh tentang mutu pendidikan kita selama kita sendiri tak mau berkorban untuk masuk ke dalamnya. Maka selama itu yang terjadi, kita hanya mau berdiri di luar sambil terus mengeluh. Tanpa akhir.

Pernah juga, seorang teman yang lain mengeluh tentang betapa mahalnya pendidikan kita. "Buku-buku yang harus dibeli di sekolah setiap semester bisa mencapai 200an ribu" katanya. Aneh, gumamku. Aku tahu dia mampu untuk itu. Dalam beberapa kesempatan, aku bersama dengan keluarganya berjalan-jalan di Mal. Dan setiap kali ke Mal, aku tahu bahwa dia harus mengeluarkan dana ratusan ribu rupiah, untuk belanja anak-anaknya. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari minggu. Lalu, mengapa untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah anaknya yang hanya setiap semester saja dipermasalahkan? Berapakah nilai hiburan yang didapatkan di Mal jika dibandingkan pendidikan yang diterima anak kita di sekolah? Berapakah nilai permainan di Mal jika dibandingkan dengan nilai buku-buku pelajaran itu? Apa itu sebanding?

Menjadi guru. Menjadi pendidik yang baik di masa-masa sekarang ini tidaklah mudah. Kita harus sadari itu. Saat para guru-guru kita ke sekolah hanya dengan motor atau bahkan dengan kendaraan umum saja, para murid ke sekolah dengan mobil. Bagaimanakah perasaan guru-guru melihat dan merasakan kondisi itu? Pikirkanlah hal itu. Menjadi guru memang tidak mudah. Oleh sebab itu, yang kita perlukan saat ini bukan sebuah keluhan, namun upaya untuk memahami kehidupan mereka, memahami ketidak-berdayaan mereka, memahami ketak-mampuan mereka untuk mendalami ilmu yang mereka ajarkan. Karena bahkan untuk hidup pun mereka harus berjuang, maka mereka takkan mampu untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan mereka yang memerlukan dana untuk membeli buku-buku pengetahuan terbaru yang kita tahu, sungguh mahal sekarang ini. Menjadi guru saat sekarang ini memang tak mudah. Sungguh tak mudah.

PGRI merupakan wadah rasa kesejawatan para guru untuk melakukan kegiatan bersama dalam mencapai kepentingan dan tujuan bersama; kepentingan pendididkan nasional maupun profesionalisme guru. PGRI mempunyai peranan strategis dalam reformasi pendidikan nasional. Kepada anggotanya PGRI berperan dan bertanggung jawab untuk memperjuangkan dalam upaya mewujudkan serta melindungi hak-hak asasi dan martabat guru khususnya dalam aspek profesional dan kesejahteraannya. Untuk itu, PGRI mengupayakan penggalangan persatuan dan kesatuan para guru, meningkatkan kualitas profesionalisme, dan secara konsisten terus memperjuangkan kesejahteraan para guru.

Sebagai wadah terpelajar tentunya mempunyai visi jauh kedepan untuk lebih baik lagi. Karenanya untuk mencapai tujuan awal, hendaknyya PGRI mengembangkan jaringan kerja secara luas dengan mengakses sumber-sumber informasi dan teknologi. Terutama akses ke pemerintah dan jangan lagi melakukan kesalahan yang sama dengan masuk ke politik praktis. "Enak sesaat, sesal kemudian", dan akhirnya membuat impoten PGRI itu sendiri. Kiranya hal berikut dapat dilakukan bermitra dengan pemerintah harus ada komitmen yang jelas menempatkan posisi guru dalam porsinya yang sesuai dan memberikan penghargaan yang layak dengan hak dan martabatnya. Perbaikan sistem pendidikan dan pelatihan guru lebih berorientasi pada pembentukan dan pemberdayaan kepribadian guru secara profesional sehingga betul-betul mampu menaungi guru.

Maju Terus PGRI

PGRI mewadahi kaum guru dalam upaya mewujudkan hak-hak asasinya sebagai pribadi, warga negara, dan pengemban profesi. Namun, sama halnya dengan banyak organisasi profesi yang masih tergantung dengan pemerintah, kinerja PGRI masih jauh dari harapan. Untuk itu pembenahan diharapkan tidak saja pada personnya tetapi juga sistemnya.

Tidak ada hal yang membanggakan ketika melihat PGRI mandiri dengan programnya dan mampu menunjukkan diri sebagai organisasi yang benar-benar layak disebut sebagai wadahnya para guru. Harapan itu tentunya tidak bisa tercapai dengan sendirinya tampa adanya dukungan semua pihak. Maju terus PGRI, semoga ditahun baru ini semangat untuk lebih baik lagi merasuk kesemua stakeholder yang peduli dengan PGRI. Karenanya tulisan ini semoga dapat membangkitkan semangat membangun dan menjadkan PGRI terdepan sebagai organisasi yang benar-benar peduli dan konsent terhadap guru dan masa depan guru.

Sebuah catatan di Hari PGRI Tahun 2009
Sumber ;
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=11559

Tidak ada komentar: